14
Mei
08

Plus Minus Ketidaknaikan Harga BBM

Menyusul naiknya harga minyak mentah dunia yang mencapai diatas 100 US $ per Barrel nya, pemerintah tampaknya segera ancang-ancang untuk menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 15 – 30 % pada akhir bulan ini. Alasannya jelas, demi mengamankan APBN yang sangat terbebani dengan pembayaran subsidi BBM yang tentu saja akan semakin membengkak seiring dengan menaiknya harga minyak mentah dunia. Kenapa bisa demikian ? karena pada saat APBN tahun 2008 ditetapkan, harga minyak mentah dunia masih dibawah level 100 US$ per Barrel nya, gampangannya bila terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia, tentu saja alokasi APBN untuk subsidi akan bertambah sesuai selisih kenaikan tersebut.

Lalu bagaimana dengan DPR..?? bukankah kebijakan anggaran (APBN) berada di tangan DPR ??. ternyata oh ternyata jauh sebelum harga minyak mentah dunia menembus level diatas 100 US$ per barrelnya, DPR lewat Panitia Anggarannya telah memberikan ijin kepada pemerintah untuk menaikkan harga BBM sebesar 15-30 % hanya jika harga minyak mentah dunia menembus level diatas 100 US $ per barrelnya.

Tapi apa yang terjadi sekarang ?? DPR ternyata mulai bersuara dan tidak menyetujui rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah tersebut. padahal sebelumnya jelas-jelas DPR telah menyetujui lewat panitia anggarannya. Alasannya jelas membela rakyat kecil yang akan terkena dampak langsung kenaikan harga BBM ini.

Tetapi sebenarnya sudah tepat sasarankah subsidi BBM tersebut ?? apakah benar rakyat kecil (miskin) yang menikmati subsidi tersebut ??

Kalau dihitung secara matematis, penikmat BBM bersubsidi terbanyak tentunya adalah kaum menengah ke atas terutama para pengguna mobil. bandingkan saja, dalam sehari berapa banyak bensin / solar yang digunakan oleh pemilik mobil, dibandingkan dengan bensin / solar yang digunakan rakyat miskin yang hanya naik sepeda angin atau naik bis. ( Lha bagaimana mo menikmati subsidi bensin, wong mobil atau motor aja ga punya..)

sering juga muncul di berita, mobil mercy yang mengisi bensinnya dengan bensin bersubsidi yang katanya subsidi untuk rakyat miskin. ketika ditanya oleh reporter berita tersebut , tidak malu, naik mercy tapi mengisi bensinnya pake bensin bersubsidi (untuk rakyat miskin) , sopir atau pemilik mobil mercy tersebut tentu saja beralasan :”lha wong pertamax (bensin tidak bersubsidi) mahal e, ya mending beli yang murah, sekarang kan jamannya lagi sulit” (ups, orang naik mercy hidupnya susah juga to.. weleh weleh)

masalahnya sekarang, rakyat miskinlah yang paling sensitif bila terjadi kenaikan harga barang-barang kebutuhan akibat kenaikan harga BBM. Meningkat seratus rupiah saja, mereka yang dalam sehari berpenghasilan hanya puluhan ribu rupiah (untuk menghidupi sekeluarga tentunya) akan langsung menjerit.

Lalu bagaimana ini..??

menurut faisal Basri, ahli ekonom kita, yang saya tonton acaranya di Perspektif Wimar di AnTV, apa yang terjadi bila Harga BBM tidak dinaikkan , kira-kira seperti ini :

1. Alokasi anggaran untuk Subsidi BBM akan sangat membengkak dan membebani APBN (bisa memicu inflasi yang lebih dahsyat.??)

2. Dana untuk subsidi BBM tentunya akan menyerap atau mengurangi alokasi pos-pos anggaran yang lain.

(seperti anggaran untuk pendidikan (yang menurut amanat UUD harus 20 % dari total anggaran), anggaran kesehatan, belanja modal (perbaikan gedung, jalan dan fasilitas umum lainnya), anggaran untuk pertahanan dan lain-lain.

3. Dampak yang secara langsung dialami masyarakat adalah : jalan-jalan yang rusak, gedung-gedung sekolah yang ambruk tentu akan semakin lama diperbaiki. Jaminan kesehatan untuk rakyat miskin tentu saja akan kena dampaknya, bila ikut berkurang karena terserap untuk subsidi BBM.

4. Akan semakin banyak penyelundupan minyak ke luar negeri karena selisih harga yang akan sangat tinggi.

5. Akan semakin meningkat pula penyelundupan solar bersubsidi yang seharusnya untuk bahan bakar kendaraan, digunakan untuk industri (yang tidak bersubsidi) karena selisih harga yang sangat tinggi.

sebagai perbandingan saja, di India yang termasuk negara miskin, harga bensin sekitar 10 ribu rupiah per liter. sehingga mereka lebih siap menghadapi kenaikan harga minyak mentah dunia, karena jika lau pun ada kenaikan, tentunya selisih harganya tidak akan se ekstrim harga BBM di Indonesia. masalahnya adalah pada “Kebijakan Energi”. kita tahu bahwa harga minyak mentah dunia dari tahun ke tahun selalu akan naik dan jarang sekali turun. seandainya sejak tahun 1970an kenaikan harga BBM dalam negeri dilakukan bertahap sekitar 2 % per tahun, tentunya tidak akan terjadi gejolak ekstrem seperti sekarang ini. masalahnya sudah terlambat, kita dan seluruh rakyat Indonesia tercinta sudah terbiasa “dienakkan” dengan harga murah BBM yang ternyata disubsidi oleh pemerintah.

yang jarang atau sering tidak dimengerti oleh kita adalah, kita sering menganggap bahwa negara kita adalah negara yang (harus) selalu punya dana untuk membiayai segala kebutuhan kita (rakyat), padahal kenyataannya, negara kita adalah negara berkembang (kalau tidak boleh disebut sebagai negara miskin) yang utang pada IMF saja baru lunas tahun ini.

kalo dampak positif ketidak naikan harga BBM tentu saja jelas, tidak akan terjadi kenaikan harga harga kebutuhan pokok yang tentunya tidak jadi memberatkan rakyat miskin.

sudah saatnya orang-orang kaya harus mulai sadar, ada hak-hak orang miskin yang masih tersimpan di brankas-brankas mereka, di rekening-rekening dollar mereka, di simpanan -simpanan emas mereka, di saham-saham mereka yang harus dan wajib mereka tunaikan. yah paling nggak membantu pemerintah lah.

mengharapkan pemerintah ?? dengan alasan sudah bayar pajak… (lha wong bayar pajak setahun ga ada sejuta rupiah aja, makai BBM nya menghabiskan puluhan juta rupiah subsidi BBM selama setahun itu weleh..)

kita tunggu saja Keputusan pak SBY akhir Mei ini apakah akan mengambil keputusan yang lebih safe dan populis dengan tidak menaikkan harga BBM, atau akan mengambil keputusan yang tidak populis dengan menaikkan harga BBM yang sebenarnya juga kepentingan bangsa (mengamankan APBN), dan tentu saja bisa menimbulkan gejolak sosial dan demonstrasi besar-besaran yang bukan tidak mungkin dapat menyebabkan Pak SBY akan bernasib serupa dengan para pendahulunya.

yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu karena sulit menebak keputusan apa yang akan diambil pak SBY seperti “menebak bajaj yang mau belok”, hanya pak SBY dan Allah yang tahu…


5 Responses to “Plus Minus Ketidaknaikan Harga BBM”


  1. 1 dek_maniezt
    Kamis, 15 Mei 2008 pukul 10:04 am

    T.T

    nangis gw….

    teringat akan sluruh sodarkuwh yang lagi kelaparan, kemiskinan, bahkan nasibnya semakin dicekik kala ini…

    Huaaaaa….mamiiii…. T.T

    Ya Allah, Alhamdulillah Kau berikan aku kelebihan ini,,,,
    Ya Allah, berikan ku petunjuk agar aku dapat menggunakan kelebihan ini dengna bijak…. T.T

    Pak SBY, dengarkanlah jerit hati rakyatmuuuu…!!!

    Huaaaaaa….. T.T

  2. Kamis, 15 Mei 2008 pukul 10:26 am

    Cup cup.. Udah dek nangis nya.. Ntar banjir malah tambah bencana

  3. Senin, 26 Mei 2008 pukul 10:43 pm

    Saya setuju dengan pemikiran ini….. Saat ini banyak orang yang kalap karena BBM naik… Banyak orang yang cuma memikirkan perutnya sendiri, trus minta BBM tidak naik harganya…

    Secara kasar pingin deh bilang gini, “Ya udah lah… Harga BBM seluruh dunia memang naik… Kok protes aja sih?!”….

    Gerah sama orang2 itu…

  4. Selasa, 27 Mei 2008 pukul 4:19 am

    Itulah mas djonie.., kenaikan bbm akhir mei kemaren tentunya dijadikan senjata politik bagi oposisi untuk berbagai kepentingan politis nya.. Itulah politik,

  5. Sabtu, 28 Juni 2008 pukul 9:32 am

    BBM naik begitu aja kok repot lha wong dari dulu yg jadi korban rakyat kecil anggota dpr pns yg cuma kerja 5hr seminggu gajian sebulan penuh coba kuli batu buat beli 1ltr gak kuat mann?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: